Senin, 19 Desember 2011

PERMULAAN MASA PEMERINTAHAN SULTAN SURIANSYAH DAN HARI JADI KOTA BANJARMASIN

Tahun lahir dan berdirinya kota Banjarmasin tidak dapat dipisahkan dengan peristiwa-peristiwa yang mengawali masa-masa permulaan pemerintahan Sultan Suriansyah sebagai pendiri Kerajaan Banjar. Peranan Patih Masih yang memprakarsai pengangkatan Raden Samudera selaku putera mahkota yang terbuang pada masa itu turut mewarnai sejarah daerah ini. Bukankah istilah Banjarmasin itu sendiri berkaitan dengan kata "masih", gelar tokoh tersebut.

Patih Masih adalah penguasa bandar Olo Masih (orang Melayu). Siapa nama patih tersebut tidak pernah disebutkan dalam sejarah. Karena itu bukan tidak mungkin bahwa dari kata "bandar masih" inilah lahir istilah banjarmasin.

Namun "banjar" lebih rapat kaitannya dengan sistem perkampungan Olo Masih (Orang Melayu) dengan bangunan berbanjar menghadap sungai yang menjadi prasarana siklus kehidupan mereka sehari-hari. Rumah berbanjar merupakan merupakan ciri khusus dari kelompok Olo Masih yang berdiam di sepanjang sungai di bagian cabang kali Barito ini. Jadilah Banjar yang terdapat di Muara Cerucuk tersebut sebagai sebuah kampung Olo Masih, yang selanjutnya lebih dikenal dengan sebutan "Banjarmasih". Lidah orang Belanda lah yang kemudian merubah Banjarmasih menjadi Banjarmasingh, akhirnya Banjarmasih.

Kapan Patih Masih merajakan Raden Samudera sebagai raja di daerah muara Sungai Barito ini, kiranya dapat ditelaah dari bagaimana hubungan peristiwa berdirinya Kerajaan Banjar tersebut dengan adanya bantuan Demak sebagai kerajaan Islam di Jawa yang giat melakukan penyebaran agama Islam pada waktu itu.

Tindakan Patih Masih bersama dengan Patih Muhur, Patih Balit, Patih Kuin dan Patih Balitung merajakan Raden Samudera di daerah Banjar mengundang pecahnya perang saudara. Pangeran Tumenggung sebagai sebagai penguasa di Negara Daha menyambut pengangkatan keponakannya tersebut dengan persiapan-persiapan untuk segera menyerang Banjar.

Patih Masih yang menyadari bakal terjadinya peristiwa perang tersebut menasihatkan kepda Raden Samudera untuk meminta bantuan kepada Kerajaan Islam Demak. Ditulis dalam Hikayat Banjar bahwa Sultan Demak bersedia membantu dengan syarat sesudah memperoleh kemenangan maka Raden Samudera harus berislam. Demikianlah diceriterakan sesudah Raden Samudera memperoleh kemenangan dan dilakukan penyerahan tahta serta peralatan kerajaan, maka Raden Samudera diislamkan oleh seorang penghulu dari Demak. Selanjutnya oleh seorang pedagang Arab di Banjarmasin ia diberi nama Sultan Suriansyah.

Sampai dengan pengakuan dirajakannya Sultan Suriansyah sebagai raja pertama di Kerajaan Islam Banjar ini, Hikayat Banjar sebagai satu-satunya sumber tidak satupun mencantumkan tahun peristiwa yang terjadi di atas. Sehubungan dengan itu untuk mendapatkan tahun-tahun kejadian tersebut orang harus mengkaitkan dengan peristiwa-peristiwa lain yang secara jelas mempunyai pertalaan-pertalaan yang dapat dipertanggungjawabkan, seperti peristiwa-peristiwa yang berhubungan dengan Kerajaan Demak tersebut.

Memang ada beberapa sarjana Barat yang mencoba menetapkan masa permulaan pemerintahan Sultan Suriansyah. DR. J. Eisen Berger menetapkannya pada tahun 1595 sampai 1620. Tahun-tahun ini yang banyak dikutip dalam buku-buku Sejarah Banjar sendiri, maupun dalam buku-buku Sejarah Indonesia. Namun perlu dicatat bahwa penetapan tersebut tidak sinkron dengan peristiwa lain yang berkaitan dengan kejadian di daeran ini. Karena pada tahun 1595 Kerajaan Demak yang disebut memberikan bantuan ketika Raden Samudera menegakkan Kerajaan Banjar, pada waktu itu sebenarnya sudah runtuh. Karena itu jelas tahun 1595-1620 sebagai masa pemerintahan Sultan Suriansyah tidak bisa dipakai.

Colenbrander menulis permulaan masa pemerintahan Sultan Suriansyah tahun 1520. Sementara J. Norlander menulis bahwa kuburan Sultan Suriansyah sudah ada sejak tahun 1550. Sedangkan J.J. Ras hanya menyebytkan pada sekitar abad ke 16.

Kalau kita lihat sejarah Demak sebagai kerajaan yang disebut telah memberikan bantuan kepada Raden Samudera ketika perang melawan Raden Tumenggung, maka ada dua orang Sultan Demak yang masyhur sesudah pemerintahan Raden Fatah selaku pendirinya. Raja-raja Demak yang telah mengadakan hubungan dengan daerah luar Jawa itu adalah Pati Unus (1518-1521) dan Sultan Trenggono (1521-1546). Sesudah itu di Demak terjadi pertentangan-pertentangan dalam merebutkan mahkota, sehingga akhirnya kerajaan runtuh dan lahir kerajaan baru yakni Kerajaan Pajang.

Tinggal lagi kita menelaah tahun-tahun 1520 sebagai permulaan masa pemerintahan Sultan Suriansyah menurut Colenbrander, dan tahun 1550 waktu meninggalnya Sultan Suriansyah menurut pendapat J. Noorlander serta sekitar pertengahan abad 16 menurut J.J. Ras. Berapa tahun Sultan Suriansyah memerintah di Kerajaan Banjar belum diketahui pasti pula. Eisenberger yang dalam usahanya mempelajari sejarah daerah ini mencantumkan masa 25 tahun. Kalau ini yang dipegang, maka permulaan pemerintahan Sultan Suriansyah berkisar sekitar tahun 1525, yakni beberapa tahun setelah Sultan Tringgono naik takhta di Kerajaan Demak.

Drs. M. Idwar Saleh menulis tentang hari lahir kota Banjarmasin sebagai berikut: "Pemilihan dan penentuan hari-hari dihitung dengan teliti dan cermat, karena kalau salah bisa membahayakan orang atau negara sesuai mistik yang berlaku. Lagi pula dalam bulan puasa tidak boleh dijalankan kegiatan apa-apa kecuali ibadah yang ditentukan. Karena itu pengislaman besar-besaran rakyat dan raja Banjarmasin kalau dihitung menurut hari baiknya, kena hari Rabu Wage 4 Syawal Jumawal 1444 Ehe (4 Syawal 932 Hijriah, Sabtu Pon) atau 23 Juli 1526 antara jam 08.30 -13.00 tiga hari sesudah hari Raya Idul Fitri".

Tetapi karena beberapa pertimbangan pengislaman rakyat dan raja Banjarmasin belum dilaksanakan pada waktu itu. Sementara walaupun Raden Samudera mendapat bantuan dari tentara Demak, namun kedua pasukan dari Negara Daha dibawah Tumenggung dan Banjarmasin dipimpin Raden Samudera tidak menunjukkan mana yang lebih kuat. Karena itu Aria Trenggana (Patih Kerajaan daha) meminta agar Tumenggung dan Samudera saja yang bertempur dan siapa yang menang itulah yang menjadi raja.

Sehubungan dengan itulah Drs. M. Idwar Saleh menulis: "Oleh Raden Samudera dan pimpinan pasukan Demak hal ini disetujui, dan pada hari baik 8 Besar 1444 Ehe Sabtu Pon (8 Zulhijjah 932 H) atau 24 September 1526 antara jam 06.00-10.30 pagi berlangsung acara pertempuran terakhir antara Raden Samudera dengan Pangeran Tumenggung masing-masing berdiri di muka perahu telangkasan mereka masing-masing. Pengaruh hari baik ternyata menguntungkan Raden Samudera". Seperti diceriterakan dalam Hikayat Banjar bahwa ketika kedua perahu telangkasan yang mereka tumpangi tersebut bertemu Pangreran Tumenggung malah memeluk keponakannya tersebut, dan kemudian menyerahkan kekusaan dan segala peralatan kerajaan kepada Raden Samudera.

Tanggal, bulan dan tahun kemenangan Raden Samudera dalam perang melawan pamannya ini kemudian dijadikan patokan sebagai: a. permulaan pengangkatan Raden Samudera sebagai raja Banjar, b. hari, bulan dan tahun jadi kota Banjarmasin.

Ibukota Kerajaan Banjar tersebut kemudian dipindahkan ke martapura oleh Sultan Mustainullah raja Banjar ke empat. Schrieke menulis perpindahan ibukota ke Martapura tersebut terjadi pada tahun 1612.

Dengan ditetapkannya tanggal 24 September 1526 sebagai hari jadi kota Banjarmasin, maka ia tidak bisa dipisahkan dengan masa permulaan pemerintahan Sultan Suriansyah sebagai raja pertama di Kerajaan Banjar. Apakah masa pemerintahan Sultan Suriansyah ini dapat dikatakan antara tahun 1526-1550, tapi yang pasti harus tidak lagi ditulis antara tahun 1596-1620.
(HRN peneliti bidang sejarah dan nilai tradisional).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar